Tuesday, January 26, 2016

KASUS DBD PER GOLONGAN UMUR TAHUN 2015

A.    KASUS DBD PER GOLONGAN UMUR TAHUN 2015

Penderita DBD mendominasi di kelompok usia 5-14 tahun/ anak usia sekolah. Aktifitas Nyamuk Aedes Aegypti pada pagi dan pada sore hari dan Lingkungan gelap di bawah meja siswa yang disukai Nyamuk Aedes Aegypti menjelaskan tingginya kasus DBD pada kelompok usia sekolah ini, Hal ini dapat dilihat dari jumlah penderita DBD per Golongan Umur di Kabupaten Ketapang tahun 2015 pada grafik 3.7  berikut ini:
Grafik. 3.7

Sumber: Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tahun 2015

Dari Grafik 3.7 dapat dijelaskan data terbagi atas :
-      5 Kelompok usia yaitu di bawah 1 tahun (37 kasus), 1-4 tahun (120 kasus), 3-14 tahun (270 kasus), 15-44 tahun (6 kasus) dan di atas 44 tahun (0 kasus).
-      Kelompok berdasarkan jenis kelamin L=laki-laki (201 kasus), P=perempuan (232 kasus).
-      Status akhir kasus DBD  penderita sembuh/ P (429 kasus) dan meniggal/ M (4 kasus)

Dapat dilihat bahwa kasus DBD tertinggi pada anak kelompok usia 5-14 tahun menyusul   usia 1-4 th, dan berdasarkan jenis kelamin jumlah penderita perempuan lebih banyak dibanding laki-laki, sedangkan dari total 433 kasus DBD penderita sembuh 429 kasus dan yang berakhir pada kematian akibat DBD 4 kasus.

PENYEBARAN PENDERITA DBD TAHUN 2015

A.    PENYEBARAN PENDERITA DBD TAHUN 2015


Kasus DBD Tahun 2015 pertanggal 31 Desember 2015 tersebar di 15 Kecamatan dari 20 Kecamatan di Kabupaten Ketapang

Grafik.3.4


Sumber: Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tahun 2015

Dari Grafik 3.4 di atas memperlihatkan bahwa kasus DBD tertinggi terjadi di Kecamatan Delta Pawan yaitu 197 kasus atau 45% dari total kasus DBD yang terjadi. Upaya antisipasi awal telah dilakukan di wilayah Kecamatan Delta Pawan dan Kecamatan Benua Kayong oleh Dinas Kesehatan pada awal tahun 2015 dengan program Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui kegiatan Pemantauan Jentik Berkala di seluruh Desa/ Kelurahan yang ada di Kecamatan Delta Pawan dan Benua Kayong dan meluas ke desa-desa terdekat dengan kota Kabupaten yang merupakan kantong utama kasus DBD. Koordinasi lintas sektor dilakukan baik pada tingkat Kecamatan Delta Pawan dan pada Tingkat Desa/ Kelurahan.


Selanjutnya penyebaran kasus DBD pada skala Puskesmas di tampilkan grafik di bawah ini
Grafik.3.5

Sumber: Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tahun 2015

Grafik 3.5 diatas menampilakn data pertangggal 31 Desember 2015 berkaitan penyebaran kasus DBD pada skala  Puskesmas, Penyebaran DBD mencakup 19 Puskesmas dan  tertinggi pada wilayah kerja Puskesmas Kedondong (108 kasus), Puskesmas Tuan-Tuan (78 kasus), Mulia Baru (49 kasus), Sukabangun (40 kasus), Sungai Melayu (28 kasus), menyusul Sungai Besar (26 kasus), Kendawangan (24 kasus), Pesaguan (16 kasus), Nanga Tayap (15 kasus), Kuala Satong (9 kasus), Air Upas (9 kasus), Sungai Awan (7 kasus), Tumbang Titi (5 kasus) berikutnya Puskesmas Sandai, Puskesmas Riam, Puskesmas Sukamulya (masing-masing 4 kasus), disusul Puskesmas Marau (3 kasus), Puskesmas Tanjung Pura dan Puskesmas  Pemahan (masing-masing 2 kasus).
Selanjutnya disajikan penyebaran kasus DBD pada tingkatan desa yang mana tidak semua desa dengan kasus DBD yang berjumlah 77 Desa bisa ditampilkan grafik berikut.

 Grafik.3.6


Sumber: Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tahun 2015
Penyebaran Kasus DBD pada tingkat Desa/ Kelurahan meliputi 77 Desa, berikut 10 besar Desa/ Kelurahan dengan kasus DBD tertinggi yaitu :
1.    Kelurahan Sukaharja (43 kasus),
2.    Kelurahan Mulia Baru (32 kasus),
3.    Kelurahan Sampit (31 kasus),
4.    Desa Kali Nilam (30 kasus)
5.    Kelurahan Kauman (21 kasus)
6.    Desa Payak Kumang (18 kasus)
7.    Kelurahan Kantor (17 kasus)
8.    Desa Mulia Kerta (17 kasus)
9.    Desa Kendawangan Kiri (14 kasus)
10. Kelurahan Tengah (14 kasus)

Kasus DBD pada 66 Desa/ Kelurahan lainnya di bawah 14 kasus. 

INCIDENCE RATE / IR KASUS DBD KABUPATEN KETAPANG

A.    IR KASUS DBD KABUPATEN KETAPANG

Berikut disajikan Incidence Rate (IR) sebagai indikator frekwensi serangan atau angka kejadian kasus DBD dalam populasi 100.000 penduduk
Grafik. 3.3
Insidens Rate Penderita DBD Per 100.000 Penduduk
Di Kabupaten Ketapang Tahun 2015


Sumber: Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tahun 2015


Dari Grafik 3.3 diatas terlihat bahwa Insiden Rate (IR) Kasus DBD pertanggal 31 Desember 2015 tertinggi di Kecamatan Sungai Melayu, Kecamatan Delta Pawan, Kecamatan Benua Kayong dan seterusnya. Secara keseluruhan pada tingkat Kabupaten IR DBD mencapai 90,97/100.000 penduduk, angka tersebut jauh di atas indikator nasional tahun 2015 yaitu 50/100.000 penduduk.


PENDERITA DBD PER-MINGGU TAHUN 2014-2015

A.    PENDERITA DBD PER-MINGGU TAHUN 2014-2015


Penderita DBD Mulai Minggu ke-26 Tahun 2014 S/D Minggu ke-53 per-tanggal 31 Desember 2015 dapat dilihat pada Grafik 3.2 berikut ini:
Grafik 3.2
 


Sumber: Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Tahun 2015


Dari GrafikL. 3.2 menyajikan data trend kasus DBD mulai dari semester kedua atau minggu ke 26 sampai minggu ke 52 di akhir tahun 2014, dimana grafik kasus DBD meningkat signifikan pada minggu ke 40 (7 kasus) mencapai 19 kasus pada minggu ke 41 berturut-turut hingga pada minggu ke 47.
Berdasarkan hasil Telaahan Staf 12 November 2014 mengenai situasi Trend yang meningkat lebih dari 2 kali lipat pada kurun waktu yang sama dibanding tahun 2013 yang terjadi berturut-turut dalam 4 minggu yang terjadi pada  minggu ke 38 hingga minggu ke 45 dan Angka kematian yang telah tercatat 6 penderita (kurun waktu sama tahun 2013 hanya 1 kematian) juga  mengacu pada Permenkes No.1501 Tahun 2010 khususnya pada point a, d dan f pada BAB III maka pada tanggal 17 November 2014 Kabupaten Ketapang dinyatakan dalam Status  Kejadian Luar Biasa DBD melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang Nomor : 443.42/0149/P3PL-B.

Peningkatan kasus DBD terus berlanjut hingga mencapai puncak tertinggi pada minggu ke 49 (82 kasus) selanjutnya trend menunjukkan penurunan  terus menerus hingga awal tahun 2015 pada minggu ke 3 tepatnya tanggal 12 Januari 2015 status Kejadian Luar Biasa DBD Kabupaten Ketapang dicabut melalui Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang NOMOR : 443.42/0039/P3PL-B/2015

KASUS DBD DARI TAHUN 2000 SAMPAI TAHUN 2015

BAB  III

GAMBARAN KASUS DBD TAHUN 2015 DI KABUPATEN KETAPANG

A.     KASUS DBD DARI TAHUN 2000 SAMPAI TAHUN 2015

Tabel Berikut menampilkan perkembangan kasus DBD dari tahun 2000 sampai dengan akhir tahun 2015
TABEL 3.1
KASUS DBD DARI TAHUN 2000 SAMPAI 2015


      Sumber: Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang

Dari data di atas terlihat pola peningkatan kasus DBD dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi namun trend lonjakan kasus DBD secara signifikan berdasarkan jumlah kasus pertahun dapat kita lihat polanya sebagai berikut :
1.     Tahun 2000 (5 kasus) melonjak di tahun 2005 (80 kasus), jarak 5 tahun
2.     Tahun 2005 (80 kasus) melonjak di tahun 2009 (114 kasus), jarak 4 tahun
3.     Tahun 2009 (114 kasus) melonjak di tahun 2012 (470 kasus), jarak 3 tahun
4.     Tahun 2012 (470 kasus) melonjak di tahun 2014 (924 kasus), jarak 2 tahun


Jika penanggulangan kasus DBD tidak mendapat perhatian lebih serius  dan lonjakan kasus  DBD mengikuti  pola / trend di atas maka jumlah kasus DBD diprediksi akan mencapai ribuan kasus pada lonjakan berikutnya dalam waktu dekat.

LAPORAN TAHUNAN DBD 2015 KAB. KETAPANG BAB II

BAB II

GAMBARAN UMUM KABUPATEN KETAPANG


A.   LETAK  GEOGRAFIS

Kabupaten Ketapang terletak pada sisi Selatan Provinsi Kalimantan Barat, yaitu pada posisi 0o19’26,51” Lintang Selatan sampai dengan 3o4’16,59” Lintang Selatan dan 109o47’36,55”Bujur Timur sampai dengan 111o21’37,36” Bujur Timur. Gambar di bawah menampilkan batas wilayah administratif Kabupaten Ketapang.

Gambar 2.1
PETA WILAYAH ADMINISTRATIF
KABUPATEN KETAPANG DAN BATAS-BATASNYA
                                                               









B.     LUAS WILAYAH


Luas wilayah Kabupaten Ketapang adalah ± 31.588 km2 atau 21,3%dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan merupakan kabupaten terluas di Kalimantan Barat. 
Tabel 2.2 di bawah ini menampilkan luas wilayah tiap kecamatan di Kabupaten Ketapang hingga akhir tahun 2014. Hingga akhir tahun 2014 Kabupaten Ketapang terdiri dari 20 kecamatan dengan 253 desa dan 9 kelurahan. Kecamatan terluas adalah Kendawangan dengan luas ± 5.859 km2 atau 18,55 % dari luas wilayah Kabupaten Ketapang, sedangkan kecamatan dengan wilayah terkecil adalah Delta Pawan yaitu ± 74 km2atau 0,23 %.

Tabel  2.2
Luas wilyah, Jumlah Desa/kelurahan, Jarak Tempuh ke Ibukota Kecamatan
Dan Kategori Wilayah Menurut Kecamatan di Kabupaten Ketapang Tahun 2014

C.     TOPOGRAFI

Dua kondisi alam di Kabupaten Ketapang yaitu pertama adalah daerah pesisir pantai yang memanjang dari utara ke selatan yang terdiri dari Kecamatan Matan Hilir Utara, Muara Pawan, Delta Pawan, Benua Kayong, Matan Hilir Selatan dan Kendawangan. Kondisi alam di daerah tersebut berupa daratan dan rawa-rawa. Sedangkan daerah yang kedua adalah daerah pedalaman/perhuluan yang terdiri dari kecamatan Simpang Hulu, Simpang Dua, Sungai Laur,Hulu Sungai, Sandai, Nanga Tayap, Tumbang Titi, Sungai Melayu Rayak, Pemahan, Jelai Hulu, Marau, Singkup, Air Upas dan Manis Mata. Umumnya kondisi alam di daerah ini berupa daratan yang berbukit-bukit dan diantaranya sebagian besar masih merupakan hutan lebat dan wilayah perkebunan kelapa sawit, karet  dan pertambangan.

D.     IKLIM

Secara geografis wilayah Kabupaten Ketapang dekat dengan garis khatulistiwa, maka temperatur udara tergolong tinggi. Menurut  catatan Stasiun Meteorologi Rahadi Osman tahun 2013 temperatur udara rata-rata berkisar 27,6 oC.  Suhu terendah tercatat pada bulan Juli dan Agustus yaitu 20,20 C –21,3oCdan suhu tertinggi terjadi pada bulan Oktober yaitu berkisar  35,6oC. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, temperatur udara pada tahun 2013 rata-rata dari tahun sebelumnya  berkisar antara 0,6o C - 1,2oC.

Di Kabupaten Ketapang, seperti umumnya di Indonesia hanya dikenal dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Curah hujan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah iklim,letak geografis dan perputaran/pertemuan arus angin.Pada tahun 2013 curah hujan maksimum 551,8 mm dan minimum 56,0 mm. Curah hujan tertinggi pada bulan Desember yaitu 397,1 mm dan terendah pada bulan Agustus 56,0 mm.

LAPORAN TAHUNAN DBD 2015 KAB. KETAPANG BAB I PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG


Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue  adalah penyakit menular akibat virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk ini berkembang di daerah dengan ketinggian di bawah 1000 meter di atas permukaan laut oleh karena itu nyamuk Aedes Aegypti menyebar di seluruh wilayah kabupaten Ketapang
Demam Berdarah Dengue juga termasuk penyakit potensial KLB yang kejadiannya di pengaruhi faktor host, lingkungan dan agent. Green (1980) menyatakan faktor host yang berkaitan perilaku dalam hal pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut :
-      Faktor predisposisi/ dari individu itu sendiri (pendidikam, pekerjaan, pendapatan dan pengetahuan)
-      Faktor enabling/ yang memungkinkan (manajemen dan tenaga kesehatan)
-      Faktor reinforcing/ penguat (ketinggian dari permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban,musim) dan kondisi demografi (kepadatan penduduk, morbilitas, adat istiadat, sosial ekonomi)

Penderita DBD di awal tahun 2015 yaitu pada bulan Januari adalah yang tertinggi dengan jumlah 170 penderita menyusul bulan Februari 118 penderita  dan pada bulan Maret dan seterusnya menunjukkan penurunan cukup signifikan hingga akhir tahun dimana pertanggal 31 Desember 2015 tercatat total 433 penderita, dengan Insidens Rate (IR) 90,97/100.000 penduduk Kabupaten Ketapang (Indikator Nasional 50/100.000) dan menyebar di 77 desa, sedangkan data DBD tahun 2014 tercatat total 924 penderita dengan Insidens Rate (IR) 197,7/100.000 penduduk Kabupaten Ketapang (Indikator Nasional 51/100.000) yang tersebar di 84 Desa.
Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang melalui seksi Pemberantasan Penyakit khususnya Program pengendalian penyakit DBD telah melakukan melakukan upaya - upaya penanggulangan dalam memutus rantai penularan penyakit DBD dengan melibatkan lintas program mau pun koordinasi lintas sektor dengan berbagai pihak.


B.     TUJUAN, INDIKATOR, STRATEGI, DAN KEGIATAN DBD TAHUN 2015 DI KABUPATEN KETAPANG


1.    Tujuan Utama Penanggulangan DBD Di Kabupaten Ketapang
a.    Menurunkan angka kesakitan
b.    Mencegah kematian akibat DBD
c.     Mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB)
         
2.    Indikator Penanggulangan DBD Di Kabupaten Ketapang
a.      Penderita yang ditangani 100%
b.     Menurunkan angka kesakitan (IR <50/100.0000 penduduk)
c.      Menurunkan angka kematian menjadi < 1%
d.     Angka Bebas Jentik >95%

a.    Pengendalian faktor resiko penyakit DBD
b.    Peningkatan surveillans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah
c.    Penemuan dan tatalaksana penderita DBD
d. Peningkatan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit
e.    Peningkatan Pengetahuan Sumber Daya Kesehatan

3.    Strategi Program Penanggulangan DBD Di Kabupaten Ketapang
a.    Membudayakan Gerakan PSN DBD di Masyarakat
b.    Meningkatkan Peran POKJA/POKJANAL dalam memobilisasi dan memberdayakan masyarakat
c.    Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Petugas Kesehatan, Kader, dan Masyarakat
d.    Menjalin Kemitraan dan Jejaring Kerja Aktif Antara Lembaga Pemerintah, Swasta, dan LSM

e. KIE kepada masyarakat tentang upaya Pengendalian DBD secara berkesinambungan